Unen – unen Non Konflik

Unen-unen dalam bahasa Indonesia berarti ujaran. Ujaran yang khas kampung, berhasil dikemas dalam aneka media: cukil, tatah, stiker, dan lain-lain. Misalnya ujaran tetep kalem lan rasan rasan, rasanya ini sedikit menyentil sekaligus memberi alternatif solusi. Seolah ingin mengingatkan mbangane ngrasani aluwung melu ngrasakke. Rasan-rasan berbeda dengan ngrasani. Ngrasani adalah membicarakan seseorang di belakang, rasan-rasan memiliki arti turut merasakan peristiwa yang dialami orang lain.

Ada pula unen-unen khas anak muda “sewu-sewu dadi”. Ungkapan ini khas kampung. Dimana pemuda kampung biasanya kaum berduit cekak. Saat kaum muda berkumpul dan ingin membeli sesuatu maka biasanya muncul jurus patungan seribu rupiah. Semuanya wajib menyumbang seribu rupiah. Angka seribu dipilih supaya tidak memberatkan pihak yang sedang tak ber-uang dan membatasi celah bagi si kaya untuk unjuk kesombongan. Artinya, karena pada hakikatnya angka yang disebut adalah seribu, jika memberi lebih silakan tapi itu bergantung keikhlasan. Meski menyumbang lebih dari seribu, nantinya saat uang digunakan untuk membeli sesuatu, semua memiliki hak yang sama. Inilah salahsatu wujud olah rasa di kalangan kaum muda kampung.

Unen-unen ini menjadi salah satu komponen yang dipamerkan pada tanggal 1 November 2015 – 10 Desember 2015 di Jogja Nasional Museum. Selain unen-unen non konflik, Anak Wayang Indonesia menggandeng Kampung Mergangsan juga memamerkan sulam, tatah, dokumentasi sejarah kampung hingga gambar dan karya anak yang kental akan filosofi hidup di kampung. Pameran ini juga sebagai media memperkenalkan kepada masyarakat tentang kampung Semanak (kampung yang ramah terhadap anak).

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.

*