Pendidikan sebagai Usaha Membangun Bangsa

Tiga tempat—pergaulan  yang menjadi pusat pendidikan yang sangat penting baginya (anak.ed): yaitu, alam-keluarga, alam-perguruan, dan  alam pergerakan pemuda (Ki Hadjar Dewantara, 1977:70). Pendidikan adalah segala daya dan usaha untuk membangun bangsa. Daya dan usaha dalam membangun bangsa dapat terwujud apabila ada dorongan sinergis dari semua eleman pendukung pendidikan, seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jiwa kebangsaan dalam diri anak dapat tumbuh maksimal jika seluruh elemen turut andil bagian dalam membentuk watak, baik sebagai makhluk individu maupun sosial.

Pendidikan individu maupun sosial harus memiliki visi untuk membangun jiwa kebangsaan dalam arti luas; baik secara jasmani dan rohani sebagai bekal anak saat beranjak dewasa. Tanggung jawab pendidikan kebangsaan tersebut idealnya berlangsung dalam keluarga, sekolah,  dan masyarakat. Karenanya pendidikan merupakan usaha membangun  bangsa. Usaha yang baik dan sinergis dari semua elemen pendidikan akan menentukan bagaimana masa depan dan tanggung jawab anak sebagai manusia yang utuh.

Tumbuh kembangnya jiwa kebangsaan pada anak, baik jasmani maupun rohani, menjadi sangat penting. Hal tersebut akan bergantung di mana, dengan siapa, dan bagaimana anak tersebut tumbuh. Artinya, proses pendidikan pada anak adalah proses kesadaran. Kesadaran pun tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan sekolah, melainkan juga masyarakat. Sementara kita sebagai manusia, adalah bagian dari anggota di dalam masyarakat. Karenanya proses pendidikan anak di dalam masyarakat merupakan tanggung jawab sosial bersama dalam usahanya membangun bangsa.

Kita sebagai bagian dari masyarakat perlu menyadari bahwa banyak generasi baru sedang tumbuh dan berkembang. Sebagai kaum terdidik dan anggota dalam masyarakat, kita  memiliki tanggung jawab sosial untuk mendorong tumbuhnya jiwa kebangsaan melalui peran sosial anak. Peran sosial anak dapat tumbuh apabila kita membantu mendorongnya secara kodrati, yaitu anak harus didorong dan disadarkan akan peran individu dalam interaksi sosial. Karena, peran individu dalam interaksi sosial menjadi penting untuk mendorong tubuh kembangnya jiwa kebangsaan anak. Jiwa kebangsaan pada anak merupakan proses yang harus dibentuk dalam  diri anak sejak dini.

Diri anak dalam proses tumbuh kembangnya, bergantung pada pendidikan yang diperoleh saat tumbuh dewasa. Karena itu, pendidikan kebangsaan sejak dini diperlukan dalam diri anak; dan akan berpengaruh ke dalam cara anak belajar, sekaligus membentuk dirinya. Anak akan mengalami proses tumbuh dari nol, kemudian berkembang sampai mengerti dengan sendirinya. Anak akan belajar bagaimana sistem dunia bekerja. Proses belajar menjadi dewasa perlu waktu dan proses yang berulang-ulang. Di sana letak proses belajar kebangsan menjadi penting untuk diletakan sebagai dasar bagi anak dalam memahami diri, dan lingkuannya secara berkesinambungan.

Proses belajar dan pengertian akan jiwa kebangsaan akan mendewasakan anak untuk mampu mengenali diri dan lingkungannya. Proses tersebut akan belangsung terus sesuai kebutuhan dan tahapan ketrampilan yang diperlukan bagi pengetahuan anak. Sebab manusia adalah makluk sempurna, maka dari itu proses belajar adalah proses sosial. Proses sosial tersebut menjadi tanggung jawab bersama: orang tua, pendidik, dan masyarkat. Perlu disadari, jika Tri Sentra pendidikan merupakan pokok utama dalam mendorong usaha membangun bangsa.

Ketika anak lahir hingga sebelum sekolah; anak akan beradaptasi bersama orang tuanya. Beradaptasi adalah proses alamiah, maka dari itu anak akan tumbuh menyesuaikan kebiasaan-kebiasan dan perlakuan dari lingkungan keluarganya. Kebiasan-kebiasan dalam mendengar, berpikir, berbicara, bergerak dan berperilaku merupakan kebiasaan alami. Kebiasaan alami tersebut  perlu disadari sebagai bagain dari proses yang tidak berhenti. Bila perlu, bahkan dalam proses adaptasinya anak didorong tidak hanya menjadi obyek  tetapi mampu menjadi subjek.  Menurut Freire (1984:4), adaptasi merupakan bentuk pertahanan diri yang paling rapuh. Seseorang menyesuaikan diri karena ia tidak mampu mengubah realitas. Menyesuaikan diri adalah kekhasan tingkah laku binatang, yang bila diperlihatkan oleh manusia akan merupakan gejala de-humanisasi.

Gejala de-humanisasi terhadap proses penyesuaian diri anak dalam keluarga, sekolah dan masyarakat perlu menjadi catatan penting perubahan. Perlu kita sadari kalau nantinya anak akan tumbuh menyerupai perilaku orang tuanya. Tumbuhnya perilaku anak menyerupai orang tuanya itu adalah hal yang wajar, akan tetapi pertumbuhan itu juga merupakan acaman proses de-humanisasi anak. Akhirnya sejauh mana kewajaran dan acaman tersebut perlu kita sadari dalam diri anak saat tumbuh. Jika kewajaran merupakan proses de-humanisasi, maka hal tersebut merupakan acaman dalam usaha untuk membangun bangsa.

Acaman serius dari proses de-humanisasi pada diri anak, merupakan tanggungjawab pendidikan keluaraga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga sentra pendidikan tersebut harus saling bersinergis dalam tujuan bersama membangun bangsa. Pendidikan yang memanusiakan manusia dalam keluarga akan  mempengarui diri anak di sekolah. Begitu pula proses pendidikan di sekolah dan masyarakat, karena apa dan bagaimana pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang sesuai dengan realitas sosial. Pendidikan yang sesuai dengan realitas sosial akan mempengaruhi cara pandang dan usaha kita dalam membangun bangsa.

Dalam buku ini, Menururut Sukarno (2013:323) mengutip Ernerst Renan: ‘Bangsa adalah satu jiwa.’ Memang benar begitu! Marilah kembali pada jiwa kita sendiri! Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong-royong; jiwa persaudaraan; jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan pancasila. Pancasila sebagai jiwa bangsa harus kita tanamkan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarkat.  Pendidikan pancasila yang sesuai dengan realitas sosial akan memahamkan kita akan proses kebangsaan yang sesuangguhnya. Pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat mempunyai peranan penting dan tanggung jawab bersama berusaha membangun jiwa kebangsaan yang utuh dan bukan tiruan.

Pendidikan jiwa kebangsaan yang utuh akan bergantung pada Tri Sentra pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.  Keluaraga sebagai tempat pendidikan yang pertama berperan membentuk watak dan karakter anak. Sementara sekolah sebagai tempat belajar pengetahuan akan berpengaruh pada proses individu dan sosial anak pertama kali. Sementara dimasyarakat adalah proses pendidikan pada realitas sosial yang sesungguhnya bagi anak.  Pendidikan pada akhirnya harus merupakan: tertib damainya hidup dalam bermasyarakat sebagai cita-cita luhur. Cita-cita tersebut menyangkut tanggung jawab individu dan sosial anak.

Kita dapat belajar dari kisah Kartini dalam melawan keterbatasaanya. Kartini dalam masa terjajah, memiliki cita-cita luhur memberikan bekal pendidikan kepada para (anak-anak) perempuan. Kartini saat itu beranggapan: jika kaum perempuan masih berada dalam kondisi terpuruk, yaitu bergantung kepada laki-laki. Sehingga diperlukan pendidikan kepada anak-anak perempuan, terutama bekal budi, agar menjadi ibu yang berbudi pekerti luhur, yang dapat berdiri sendiri mencari nafkah; sehingga mereka tidak perlu kawin kalau memang mereka tidak mau (RA Kartini, 2008:97). Apa yang di lakukan kartini merupakan salah satu usaha nyata dalam membangun sebuah bangsa. Kepekaan Kartini terhadap realitas sosial merupakan proses kesadaran yang  timbul karena merasa satu jiwa, yaitu  senasib dengan kaum perempuan bangsanya saat itu.

Anak-anak harus mengetahui bahwa mereka nantinya akan memiliki peranan peting terhadap tanggungjawab dan realitas sosial yang terjadi. Sebagai kaum terdidik, anak harus diberi pengertian bahwa nantinya mereka akan memiliki peranan yang menyangkut realitas dan kebijakan sosial yang terjadi. Pendidikan pun harus membantu anak untuk mampu membongkar realitas social,  dan  mencari solusi tersendiri atas realitas sosial yang telah terjadi pada zamanya. Hal tersebut nantinya akan menyangkut kemampuan individu, dan sosialnya untuk bekerja bersama, maka pendidikan kebangsaan adalah modal atas pemahaman realias sosial yang terjadi. Sehingga kemampuan individu dan sosial anak dalam proses berbangsa akan berjalan sinergis sesuai dengan perkembangan zaman.

Bagaimanapun anak merupakan generasi penerus bangsa di masa depan. Proses pengajaran nasional itulah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa (maatsschappelijk) dan kehidupan bangsa (cultureel) (Ki Hadjar Dewantara, 1977:4). Kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa tergantung pada tanggung jawab kita berbangsa. Tanggung jawab berbangsa seorang yang terdidik adalah melihat persoalan yang terjadi dalam realitas sosial dan kebangsaan saat ini. Tugas seorang yang terdidik mendorong setiap anggota masyarakat membuat sistem pendidikan yang sinergis.  Pendidikan yang sinergis merupakan pendidikan yang berlandaskan satu jiwa kebangsaan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sistem yang sinergis tersebut mewujud: tertib damainya hidup bersama dalam bernegara.

Pertanyaannya adalah bagaimana sistem yang baik dan sinergis tersebut dapat diciptakan? Untuk itu kita harus berkaca pada cita-cita berbangsa selama ini. Apakah cita-cita kita berbangsa adalah cita-cita bersama atau merupakan cita-cita individu?  Jika kita meletakakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu maka kita sudah turut andil dalam membangun sebuah bangsa. Wujud dasar jiwa berbangsa sudah termaktup dalam pancasila dan Udang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945.

Pancasila dan UDD 1945 sudah jelas menyandarakan akar pada kehidupan berbangsa kita. Sebagai warga negara Indonesia maka sejak dini Pancasila dan UUD 1945 perlu di tanamkan jiwa kebangsaan yang utuh. Tentu saja, diperlukan manusia-manusia yang memiliki komitmen kuat dan  metode pembelajaran yang sesuai untuk mampu menjauhkan maksud dan kepentingan individu, dalam kepentingan setiap langkah pendidikan berbangsa. Tanggung jawab kita saat ini adalah menanamkan pendidikan berbangsa yang baik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan berbangsa anak sejak dini akan menghambat kepentingan individu yang menyimpang seperti banyaknya tidak pidana  korupsi, kekerasan, penelataran anak saat ini. Memiliki rasa kebersamaan, persaudaraan, dan kecintaanya akan tanah air merupakan cikal-bakal hidup berbangsa.

Namun kehidupan berbangsa harus belandaskan sikap senasip-sepenangungngan. Bukan hanya merasa senasip tetapi kemudian mengutamakan  kepentingan individu dan meletakaan tanggungjawab sosialnya demi kepentingan pribadi atau golongan. Jika ada yang demikian dapat dikatakan melanggar tertib damainya hidup bermasyarakat sebagai tanggung jawab moral; dan perlu diberlakukanya sanksi sosial yang berat.

Adanya sangksi sosial yang berat terhadap setiap pelanggar tertib damainya hidup bermasyarakat akan memperkuat tumbuhnya sikap kebangsaan dan cinta tanah air. Sikap kebangsaan dan cinta tanah air  tersebut harus menjadi cita-cita penting pendidikan nasional yang utuh. Sikap cinta tanah air adalah dasar bagi seluruh elemen pendidikan.  Wujud atau sikap metode mendidik anak harus mewujud dan sejalan dengan alam dan cita-cita luhur bersama. Cita-cita luhur yang utuh, luas, dan tertib diperlukan dalam hidup damainya berbangsa dan bernegara. Sehingga nantinya dapat ikut berpartisipasi dalam menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia.

Selain sikap cinta tanah air, kita berkewajiban memelihara persatuan, kesatuan, keimanan dan ketaqwaan pada diri anak. Segala kepentingan, aturan, dan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan anak adalah demi terciptanya persatuan dan kesatuan bersama. Wujud keimanan dan ketaqwaan dalam kehidupan bersama sebagai warga negara, akan mendorong terciptanya negara adil, makmur; tata, titi tentrem dalam tertib damainya hidup antar bangsa.

Pendidikan tanpa adanya pengertian persatuan dan kesatuan, serta pemahaman akan keimanan dan ketaqwaan dalam arti luas, adalah pendidikan yang seperti peta buta di tengah hutan rimba. Cita-cita berbangsa di atas persatuan dan kesatuan akan memperkokoh langkah kita dalam membuat aturan atas dasar kepentingan bersama. Sementara keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan lebih meperkuat dan mempertebal rasa kebangsaan kita. Mengutip hal ikhwal teolgis yang pernah di ikrarkan KH Ahamad Dahlan pendiri Muhammadiyah (2008:67) manusia akan mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna jika memiliki kedalaman ilmu pengetahuan.

Kedalaman ilmu pengetahuan, keimanan, dan ketaqwaan saja tidak cukup untuk cita-cita bernegara yang kuat. Kedalaman pengetahuan, keimanan, dan ketakwaan tanpa adanya landasan jiwa kebangsaaan jelas memupuk individu-individu tanpa visi bernegara. Hal tersebut nantinya akan mengancam kehidupan berbangsa negara itu sendiri. Setiap orang memiliki tanggung jawab sama menjaga dan berlomba mewujudnya cita-cita pendidikan berbangsa. Pada akhirnya tujuan pendidikan anak bergantung usaha dan tanggung jawab kita bersama untuk membangun dan memupuk jiwa kebangsaan demi terciptanya tertib damainya hidup bernegara saat ini.

oleh : Ficky Tri Sanjaya

 

Buku-buku Bacaan

Daras, Roso. 2013. Total Bung Karno Serpihan Sejarah Yang Tercecer. Depok. Imania

Dewantara, Hadjar, Ki. 1977. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama : Pendidikan. Yogyakarta. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Saksono, Gatut, Igt. 2008. Pendidikan Yang Memerdekakan Siswa. Yogyakarta. Rumah Belajar Yabinkas.

Freire, Paulo, Dr. Prof. 1984. Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan. Jakarta. PT. Gramedia anggota IKAPI.

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.

*