Kampung Ramah Anak

Jogja Istimewa,

Kampung Ramah Anak (KRA) 

Rossi Yunior Nugroho

Kota Yogyakarta dikenal masyarakat luas akan kota pelajar dan kota budaya. Yogyakarta menjadi salah satu destinasi favorit untuk dikunjungi bukan hanya sekedar mengisi waktu libur dan mengenyam pendidikan namun banyak pula yang mencari peruntungan untuk bekerja.

Banyaknya pendatang menjadikan Yogyakarta pluralis dan semakin padat penduduknya. Kampung-kampung mulai bertambah penat. Lambat laun mulai terkikis ketenangan dan kenyamanannya.Berganti dengan hiruk pikuk aktivitas masyarakat, persaingan kerja ditengah kebutuhan yang serba mahal.

Keadaan seperti ini membuat Yogyakarta tidak lagi ramah. Khususnya bagi anak-anak. Banyak para orang tua ataupun masyarakat lupa untuk memperhatikan anak-anak mereka. Para orang tua hanya mencukupi kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Padahal mereka juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih. Selain itu tempat bermain mereka pun sudah banyak yang hilang, beralih fungsi menjadi hunian.

Anak-anak sekarang lebih banyak bermain dirumah dengan gadgetnya ataupun mengakses internet di pinggir jalan, menonton televisi sepanjang hari, dan asik sendiri bermain dengan game di dalam komputer. Kita tidak tahu konten apa yang mereka serap dari fasilitas tersebut.

Keresahan semacam itu menjadi salah satu alasan pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) membuat program Kampung Ramah Anak (KRA). KRA merupakan bentuk usaha pemerintah kota untuk memberdayakan masyarakat untuk peduli pada pertumbuhan anak-anak. Mendorong masyarakat sadar akan pentingnya mempersiapkan generasi penerus lebih baik. Generasi penerus yang baik tentunya memerlukan lingkungan kondusif sebagai media tumbuh kembang.

Pada tahun 2009 Kota Yogyakarta telah dinobatkan sebagai Kota Layak Anak oleh Kementrian Pemberdayaan Masyarakat dan ikut serta dalam Kongres Kota Layak Anak Asia Pasifik yang diadakan di Surakarta pada tahun 2011.

Sementara itu kemudian Yogyakarta mengawali KRA pada tahun 2011 dengan mendampingi kampung Badran, Kecamatan Jetis dan Kampung Sudagaran, Kecamatan Umbulharjo. Kedua kampung ini menjadi pilot project yang dipantau perkembangan serta dievaluasi sebagai bekal pengembangan program di kampung lain.

Pada tahun 2012 pembentukan KRA mencapai 12 kampung dan di tahun 2013 telah menjadi 32 kampung. Saat ini tercatat 115 KRA di wilayah Kota Yogyakarta dan masih ditambah lagi 21 kampung baru serta 1 kampung pengembangan, sehingga total menjadi 37 KRA.

Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan 61 indikator menjadi tolok ukur KRA. Tolok ukur tersebut terbagi dalam berbagai aspek yaitu komitmen wilayah, hak sipildan kebebasan untuk anak, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, hak kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, hak perlindungan khusus, budaya serta sarana dan prasarana.

Mekanisme pembentukan KRA adalah kampung diharuskan mengirimkan proposal kegiatan setahun sebelum program dicanangkan kepada Wali Kota Yogyakarta. Proposal tersebut atas persetujuan Rukun Warga ( RW ) dan kelurahan setempat, kecuali kampung percontohan yang telah ditetapkan oleh pemerintah kota.

Proposal yang telah dikirimkan akan diverifikasi oleh bagian khusus yang telah dibentuk pemerintah kota. Bagi kampung yang lolos proses verifikasi akan diberikan bantuan dana pengembangan sesuai dengan proposal yang diajukan. Dana pengembangan Kampung Ramah Anak dapat mencapai 20 juta rupiah. Untuk kampung KRA yang masuk dalamkampung pengembangan akan mendapatkan dana tambahan pengembangan kurang lebih 10 juta rupiah.

Tahap awal program baru KRA saat ini adalah sosialisasi dan workshop. Kegiatan ini diikuti sekurangya 40 orang yang dipilih sebagai wakil kampung. Serta pengumuman penetapan level kampung KRA dengan menggunakan 61 indikator yang telah dimiiki oleh pemerintah kota.

Yogyakarta dengan predikat Kota Layak Anak serta programnya Kampung Ramah Anak semoga menjadikan Yogyakartamampu membaca kebutuhan anak di masa kini dan akan datang yang penuh dinamika.

Facebook Comments